Kenapa Waktu Terasa Berjalan Begitu Cepat?

Pernahkah kamu merasa bahwa waktu berlalu begitu cepat? Rasanya malam tiba dalam hitungan menit dan kita kehilangan waktu untuk melakukan berbagai hal yang sebenarnya ingin kita lakukan. Kenapa ya waktu bisa terasa semakin cepat seiring kita bertambah usia?

Persepsi akan Waktu

Waktu adalah pengalaman yang subjektif. Setiap orang bisa memiliki pengalaman waktu yang berbeda dengan situasi yang beragam. Mungkin, ketika scrolling media sosial, 30 menit terbang begitu saja. Namun, saat menyetir mobil dalam keadaan macet, 30 menit yang sama bisa terasa seperti 3 jam. Dalam keadaan menyenangkan, waktu berlari sangat cepat, sedangkan dalam keadaan bosan, waktu berjalan dengan sangat perlahan. Pengalaman ini menunjukkan bahwa sebenarnya, waktu berjalan dalam kecepatan yang konstan, hanya persepsi kita akan waktu yang berubah-ubah.

Ada dua cara manusia mempersepsikan durasi dari setiap peristiwa dalam hidupnya. Pertama, secara prospektif, yaitu merasakan atau memerhatikan waktu berlalu selama peristiwa itu berlangsung. Kedua, secara retrospektif, yaitu mengingat kembali seberapa lama suatu peristiwa setelah berlangsung.

Prospektif: Kepadatan Peristiwa

Persepsi waktu secara prospektif utamanya mengandalkan atensi. Semakin kita memerhatikan jalannya waktu, waktu akan terasa semakin lama. Sebaliknya, ketika perhatian kita terpusat pada hal lain, waktu seakan berlalu begitu saja.

Salah satu faktor yang dapat membuat waktu terasa singkat adalah kepadatan peristiwa dalam hidup kita. Ketika hari dipadati banyak kejadian dan aktivitas, kita tidak akan terlalu menyadari jalannya waktu, karena sebagian besar atensi kita terserap pada kesibukan tersebut. Selain kepadatan peristiwa, emosi yang timbul juga ikut berpengaruh. Emosi seperti rasa senang, dengan hati berdebar-debar akan membuat waktu terasa cepat berlalu, ketimbang perasaan seperti sedih, depresif, atau bosan.

Hal ini juga menjelaskan mengapa banyak orang merasa bahwa semakin bertambah usia, waktu ikut berjalan lebih cepat. Saat kita dewasa, kehidupan kita akan semakin penuh dengan berbagai aktivitas dan tuntutan, baik itu dari pekerjaan, keluarga, maupun kehidupan sosial. Berbeda dengan masa kecil, ketika kita memiliki banyak waktu luang dan hidup berjalan dalam tempo yang lebih lambat. Oleh karena itu, kita seringkali melalui hari demi hari tanpa sadar.

Retrospektif: Rutinitas dan Proporsi Waktu

Manusia tidak memiliki stopwatch internal yang selalu mengukur waktu setiap saat. Jadi, manusia bergantung pada memori dan informasi sensorik untuk memperkirakan seberapa lama suatu hal telah berlangsung. Mekanisme ini adalah persepsi waktu secara retrospektif. Lebih banyak memori dan informasi artinya lebih panjang waktu yang telah berlalu.

Ketika mengalami suatu hal yang baru atau asing, otak kita akan lebih banyak merekam memori dan detail dari pengalaman tersebut dibandingkan biasanya. Misalnya, ketika pertama kali bermain gitar, otak akan menyerap semua informasi terkait pengalaman tersebut, seperti sensasi memegang senar gitar, lagu yang dimainkan, perasaan yang muncul, chord yang dipelajari, hingga warna dan tekstur dari gitar tersebut. Hal ini membuat pengalaman tersebut terasa lebih panjang ketika dikenang dari yang sebenarnya.

Selain itu, otak tidak merekam kejadian secara linier. Saat menerima informasi baru, otak akan mengatur ulang informasi tersebut sehingga dapat dipahami dengan mudah. Tentunya, sesuatu yang asing membutuhkan waktu yang lebih lama untuk diproses. Masa proses yang lebih lama membuat momen dapat terasa seakan lebih lama. Itulah mengapa waktu liburan mungkin akan terasa lebih panjang ketika masa kanak-kanak dibandingkan ketika memasuki usia dewasa.

Sebaliknya, di usia dewasa, hidup menjadi jauh lebih monoton dan rutin. Otak mungkin tidak akan merekam perbedaan antara pengalaman kerja hari ini atau hari sebelumnya, kecuali ada suatu hal unik yang terjadi. Rekaman memori yang lebih sedikit dari hari ke hari membuat waktu yang dilalui terasa lebih singkat jika dikenang kembali dari yang sebenarnya.

Teori lain mengatakan bahwa proporsi dari sebuah periode terhadap usia juga menjadi salah satu alasan yang membuat waktu dapat terasa lebih cepat. Satu tahun bagi seorang anak berusia lima tahun terasa panjang, karena periode waktu itu adalah 25% dari keseluruhan hidup mereka. Di sisi lain, satu tahun bagi orang berusia 40 tahun hanyalah 2.5% dari keseluruhan hidup mereka, yang membuatnya terasa seperti waktu yang singkat.

Dampak positif yang dapat muncul ketika perubahan musim

Perubahan musim juga bisa membawa efek positif bagi sebagian orang dan relasinya. Cuaca dingin dan keterbatasan untuk beraktivitas di luar rumah dapat dimanfaatkan untuk menciptakan kehangatan bersama keluarga atau pasangan. Suasana yang lebih tenang mendorong percakapan mendalam, Selain itu, momen saling mendukung ketika salah satu merasa kurang bersemangat.

Cara Memperlambat Waktu

Perasaan bahwa waktu begitu cepat berlalu mungkin menimbulkan rasa tidak nyaman bagi sebagian orang. Mungkin kamu merasa dikejar oleh waktu, mungkin juga merasa hidup membosankan, atau resah karena hidup berlalu begitu saja tanpa pengalaman yang memuaskan. Tidak perlu khawatir, ada beberapa cara untuk membuat waktu terasa seakan “lebih lambat” sehingga kita bisa lebih hadir dan menikmati momen menyenangkan, serta mengurangi stres dari kehidupan yang serba cepat.

Pertama, memperkaya pengalaman. Mengisi hidup dengan hal-hal baru akan memberikan otak memori dan detail yang segar. Jadi, saat kita menoleh ke belakang, waktu yang telah berlalu terasa lebih panjang dan berkesan. Mencoba keluar dari rutinitas, seperti mengambil rute berbeda saat berangkat kerja atau berlibur ke destinasi asing, bisa menjadi opsi untuk mendapatkan pengalaman baru. Di rumah pun, kita bisa mengasah keterampilan unik atau belajar hal baru untuk menciptakan sensasi serupa. Aktivitas menantang seperti ini juga akan memperlambat persepsi waktu karena otak membutuhkan durasi lebih lama untuk memproses informasi yang belum familiar.

Kedua, berlatih hadir sepenuhnya di masa kini. Meditasi adalah salah satu cara paling efektif untuk melatih atensi dan kesadaran pada setiap momen. Meski bagi sebagian orang mungkin terdengar membosankan, meditasi terbukti dapat membantu meredakan stres dan kecemasan. Dengan meditasi, kita bisa belajar mengasah fokus, meregulasi emosi dengan lebih baik, hingga meningkatkan kualitas tidur. Apabila meditasi masih terasa sulit, meluangkan waktu sejenak untuk menyadari keberadaan diri dan lingkungan sekitar bisa menjadi alternatif. Dengan memberikan perhatian penuh pada emosi, sensasi tubuh, serta suasana di sekeliling, kita sebenarnya sedang memberi ruang bagi diri sendiri untuk hadir seutuhnya dalam momen tersebut.

Ketiga, mengurangi distraksi. Notifikasi ponsel, scrolling tanpa batas, hingga paparan konten, berita, hiburan, dan iklan di mana-mana membuat atensi kita terbelah. Kondisi ini diperburuk oleh kebiasaan multi-tasking, di mana kita mencoba melakukan banyak hal dalam satu waktu. Makan sambil menonton video pendek, membalas pesan saat bertelepon, atau mendengarkan rapat dan bermain media sosial dalam waktu yang bersamaan. Alih-alih efisien, multi-tasking justru membuat fokus kita melompat-lompat secara dangkal. Akibatnya, otak tidak mampu merekam detail pengalaman dengan kuat, yang membuat hari-hari kita terasa lewat begitu saja seperti bayangan yang kabur. Dengan meminimalkan distraksi dan hanya melakukan satu hal dalam satu waktu, kita memberi kesempatan bagi otak untuk benar-benar “hadir”, sehingga setiap aktivitas terasa lebih nyata dan berkesan.

Terakhir, mengingat dan memaknai setiap pengalaman dalam hidup. Saat kita merefleksikan kembali dan memaknai setiap kejadian, kita sebenarnya sedang memperkuat dan memperkaya memori tersebut di dalam otak. Hal ini dapat kita lakukan dengan menulis jurnal, mendokumentasikan momen dalam foto maupun video, atau menyalurkan memori tersebut dalam beragam cara lainnya. Menghargai setiap detik yang berjalan akan membuat hidup terasa lebih utuh, bermakna, dan tidak berlalu begitu saja sebagai rutinitas yang kosong.

Pada akhirnya, persepsi waktu sebagian besar masih ada dalam kendali kita. Tidak perlu khawatir, waktu terasa berjalan lebih cepat bukan berarti kita hanya bisa melihat waktu pergi begitu saja. Mungkin, itu menjadi tanda bahwa hidup kita membutuhkan jeda dari kesibukan atau rutinitas kita saat ini. Dengan memperbanyak pengalaman baru, berlatih hadir sepenuhnya dalam setiap momen, mengurangi distraksi, serta senantiasa memaknai setiap kejadian, kita dapat menciptakan hidup yang terasa lebih panjang, utuh, dan berkesan.


Sumber:
Brooks, J. (2012). Retrospective time perception of a long task: Using music to distinguish between attention-based and memory-based mod [Honours Thesis]. Edith Cowan University. https://ro.ecu.edu.au/theses_hons/72

Hammond, C. (2017, June 30). All in the Mind – How to speed up or slow down time. BBC. https://www.bbc.co.uk/programmes/articles/2c7nMpXf7ckY4tRlpfB4sdq/how-to-speed-up-or-slow-down-time#:~:text=Other%20ways%20to%20slow%20down%20time%20include:,watch%20*%20Hone%20your%20skills%20at%20mindfulness

Hansen, J. & Trope, Y. (2012). When time flies: How abstract and concrete mental construal affect the perception of time. Journal of Experimental Psychology: General. 10.1037/a0029283

Kondo, H.M., Gheorghiu, E. & Pinheiro, A.P. (2024). Malleability and fluidity of time perception. Sci Rep, 14(12244) . https://doi.org/10.1038/s41598-024-62189-7

Sheposh, R. (2025). Time Perception. EBSCO. https://www.ebsco.com/research-starters/psychology/time-perception

Shopping cart

0
image/svg+xml

No products in the cart.

Continue Shopping