Build a Bridge – Future Heroes Project

Program Build a Bridge adalah program yang diupayakan untuk membangun jembatan dan ruang pertemuan antar kelompok yang memiliki latar belakang berbeda. Peserta diajak untuk saling mengenal, merayakan, dan melindungi perbedaan

Program ini disusun dengan menggunakan kurikulum kecerdasan emosional. Peserta diajak untuk mengenal siapa dirinya dan apa kepribadiannya, bagaimana cara membangun empati kepada orang lain, memahami toleransi, serta belajar untuk berdialog di antara kelompok.

Program Build a Bridge memiliki dua aktivitas utama:
1. Kampanye kenal diri, bangun empati, dan toleransi yang dilakukan secara daring
2. Dialog lintas iman antara orang muda pemimpin Katolik dan Islam yang dilakukan secara luring

Peserta yang mengikuti kampanye daring secara keseluruhan adalah sejumlah 346 orang muda dan mayoritas adalah perempuan.

Terjadi peningkatan signifikan pada aspek pengetahuan dan kepercayaan diri peserta untuk mengenal dirinya, membangun empati, serta memahami tentang definisi toleransi dan langkah-langkah berperilaku toleran.

Fokus dari program ke dua (luring) adalah untuk membangun jembatan dialog dan diskusi dalam upaya memupus prasangka.

Proses pengembangan diri meliputi:

  • Upaya mengenal diri sendiri,
  • Peka terhadap isu sosial, dan
  • Membangun hubungan yang positif dengan orang lain.

Sementara itu, peserta dialog lintas iman terdiri dari 15 seminaris Stella Maris Bogor dan 7 santri Pondok Pesantren As-Shoheh Sampora. Kegiatan sendiri dilaksanakan di seminaris Stella Maris Bogor selama 2 hari 1 malam. Menariknya, rektor seminari menilai bahwa program sangat bermanfaat sehingga dua sesi terakhir, seluruh anggota seminaris (berjumlah 56 orang) ikut serta. Secara kognitif, terjadi peningkatan pemahaman yang sangat baik terhadap materi yang disampaikan, yaitu Mengenal Diri, Empati, Toleransi, dan Dialog Antar Iman. Selain itu, terjadi penurunan terhadap stereotip yang dimiliki antar kelompok. Misalnya, adanya pemahaman baru bahwa alat musik dapat dipakai sebagai media untuk membantu ibadah dan tidak haram.

Stereotipe: “Orang Islam benci nasrani”

Pemahaman baru: “ternyata gak semua, mungkin hanya karena orang yang selama ini terlihat aja dan bukan berarti semuanya seperti itu. “

Stereotipe: “Menggunakan alat musik yang menurut muslim haram”

Pemahaman baru: “Alat musik itu sebagai alat untuk membantu ibadah dan nyanyian itu sebagai puji-pujian” (bagi agama katolik)

Mayoritas peserta (90%) merasa puas dengan kegiatan serta nilai rata-rata peserta terkait persepsi pemahaman terhadap materi sangat baik (86 dari 100). Pihak-pihak terkait berharap program ini dapat berkelanjutan.

Shopping cart

0
image/svg+xml

No products in the cart.

Continue Shopping